Senin, 14 April 2008

CERPEN

Untuk postingan pertama, Serenity akan ngasih sebuah cerpen buat kalian. Cerpen ini mengisahkan seorang gadis asal Indonesia yang jadi tukang sapu halaman universitas Harvard. ia jatuh cinta banget sama Autumn di harvand yang katanya bagus banget itu loh! hidupnya berubah kala ia bertemu dengan seorang cowok.

mau tau lanjutannya? baca sendiri ya!

aku ngarepin komentar dari kamu.....

AUTUMN

Awal pertama aku menerima pekerjaan sebagai petugas kebersihan di Harvard, aku berfikir kalau pekerjaaan ini akan sangat membosankan dan menyita banyak tenagaku. Dan ternyata memang benar. Meski aku hanya bekerja pada siang sampai sore hari, aku masih tetap kerepotan membagi waktu antara sekolah dan keperluanku untuk mencari uang. Apalagi, saat musim gugur seperti ini. Pekerjaan menyapuku akan bertambah dua kali lebih berat. Daun-daun terus berguguran ke tanah tanpa ada yang bisa yang mengendalikannya.

Kemudian, seiring berjalannya waktu, pikiranku berubah. Aku mulai merasakan keterikatan yang kuat dengan musim gugur di tempat ini. Setiap kali aku memasuki pintu gerbang Harvard, dan melewati tamannya yang banyak ditumbuhi pohon Ek, aku merasa damai. Jika pada musim dingin salju yang berjatuhan di atas kepalaku, sekarang daun-daun keringlah yang jatuh berguguran di atas tanah.
Ya! Sekarang adalah musim gugur. Dan tidak seperti orang lain yang lebih jatuh cinta pada Central Park saat musim gugur, aku lebih menyukai Harvard. I love this place so much, dan keterikatanku dengan tempat ini semakin kuat.
***
“Sapu yang bersih ya, Daphne!” kata si kembar Olive-Aly–melewatiku dengan gaya mengejek saat aku sedang menyapu halaman fakultas psikologi. Mereka bukan yang pertama, lusinan mahasiswa lain melakukan hal yang sama padaku. Mengolokku, mengataiku, menggangguku, bahkan mereka pernah mengacaukan pekerjaanku dengan menyebarkan daun-daun kering yang telah aku kumpulkan. Apa dimata mereka pekerjaan sebagai petugas kebersihan itu sangat hina? Tidak bisa apa mereka berterima kasih sedikit saja kepadaku karena toilet mereka bersih dan siap dipakai setiap pagi?
“Daphne?” kata seseorang dari belakang. Aku sudah sangat jengkel menghadapi orang-orang sejenis Olive-Aly, hingga aku berfikir kalau orang dibelakangku ini adalah orang lain yag akan memperolokku.
“APA?” sentakku seraya berbalik. Aku sedikit merasa bersalah telah membentaknya saat melihat wajah lugu orang ini–wajah tak bersalah yang sama sekali tak memenuhi syarat untuk masuk dalam daftar orang-orang yang menggangguku.
“Aku hanya ingin memberimu kalung ini.” Katanya seraya memberiku sebuah kalung yang sudah lama aku kenal, liontin peninggalan nenek yang dua hari lalu jatuh saat aku menyapu halaman fakultas psikologi. “Aku menemukannya kemarin.” Lanjutnya setelah aku mengambil kalung itu. Bagus, sekarang aku benar-benar merasa bersalah telah menggertaknya tadi.
“Bagaimana kau tahu ini kalungku?” tanyaku setelah meneliti kalungnya dengan teliti, jangan-jangan ada yang rusak.
“Ada tulisan Daphne Green. Siapa lagi yang punya nama itu di kampus ini kalau bukan kau.” Jawabnya. Dia tahu aku? Oh, tentu saja dia tahu aku. Siapa lagi sih, satu-satunya wanita petugas kebersihan di kampus ini kalau kalau bukan aku?
“Aku Andrew Costa.” Katanya, yang bagiku sangat tiba-tiba. Dia mengenalkan dirinya! Aku sangat tergoda untuk menjabat tangannya dan berkata, ‘senang berkenalan denganmu’ atau sejenisnya. Lalu, ketika akhirnya aku tidak bisa menahannya aku berkata, “Senang berkenalan denganmu Andrew.”

***

Andrew adalah satu-satunya temanku di Harvard. Dia teman yang sangat baik. Dia banyak sekali membantuku belajar untuk tes beasiswa masuk Harvard. Kemudian, dia membuatku tidak ‘merasa sendiri’ di sini. Kalau biasanya aku hanya menyelesaikan pekerjaanku lalu pulang tanpa membawa kesan apaupun selain musim gugurnya yang indah (itu juga kalau saat musin gugur saja), kini aku jadi sering berlama-lama untuk tinggal meskipun pekerjaanku telah selesai. Biasanya aku akan mengobrol sampai puas dengan Andrew di bawah pohon Ek.

Waktu berjalan... sudah lewat beberapa bulan sejak pertama kalinya aku bertemu Andrew. Musim gugur tergantikan dengan indahnya salju, udara semakin dingin dan natal menjelang. Kini, pekerjaanku menjadi lebih gampang dari biasanya, karena halaman yang biasanya aku sapu tertutupi salju. Aku hanya tinggal membersihkan kamar mandi dan mengelap kaca di fakultas hukum. Dan... aku juga lebih punya waktu untuk belajar ujian beasiswa tiga bulan lagi.
“Kenapa kau mau berteman denganku?” tanyaku di suatu sore saat kami sedang jalan-jalan di Harvard Square.
“Ehm, mungkin karena aku kasihan.” Jawab Andrew. dengan melihat ekspesinya saja yang kelihatan seperti dibuat-buat aku langsung tahu kalau ia bohong. Maka, aku memberinya ekspresi yang seperti, ‘Seriuslah!’. “Baiklah aku mengaku bohong. Aku berteman denganmu karena...” ia berfikir, “Aku tidak bisa menjawabnya.” Katanya lagi. Aku memberikan muka kesalku dan ia berkata, “Ini masalah hati. Aku tidak bisa menerjemahkan hatiku. Pokoknya kalau aku berda di sisimu, aku merasa nyaman.”

Aku tersanjung. Tidak pernah ada orang yang mengatakan hal seperti itu padaku. Sekalipun tiu adalah orang tuaku. Sebenarnya, selama ini aku terus memikirkannya, saat semua orang di Harvard menganggapku ‘tidak penting’, kenapa Andrew mau berteman denganku? Ia merasa nyaman bila berada di sisiku, apa hanya itu alasannya?
“hei, Daphne!” kata Andrew yang entah kenapa berubah menjadi sangat serius.
“Skripsiku telah selesai. Dua bulan lagi aku akan diwisuda.”
Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana saat itu. Seharusnya ini menjadi saat bahagia, tapi, wajah dan ekspresi Andrew mengatakan lain.
“Bagus! Selamat ya! Sebentar lagi kau akan menjadi pengacara paling handal di Boston.” Kataku kemudian.

Ia menghentikan langkahnya, menatapku, kemudian berkata, “Aku tidak akan ada di Boston sesudahya.” Ada jeda– “Aku adalah pendatang. Aku kesini hanya untuk kuliah, rumahku di London, Daphe. Setelah aku lulus, aku akan langsung memimpin Firma hukum ayahku yang ada di sana.”

Aku tak tahu harus berkata apa. Bohong kalau aku bilang tidak sedih. Andrew telah menjadi teman yang baik selama aku di Harvard. Kami banyak menghabiskan waktu bersama, dan dia juga telah membawaku pada titik paling ceria dalam hidupku. Kehilangan dia sekarang...aku tidak bisa membayangkannya.
“Apa itu harus?” tanyaku tanpa melihat matanya.
Andrew mendengus, “Harus Daph! Sulit untuk mengatakannya, tapi mungkin kita tidak akan bertemu untuk beberapa waktu. Aku berdoa agar kau bisa lulus dalam ujian itu.”
Andrew, kalau saja dulu aku punya cukup keberanian untuk mengatakannya, aku akan bilang kalau pertemanan adalah hubungan paling baik yang pernah kita jalin. Tapi, apa bisa lebih dari teman?


***

SETAHUN KEMUDIAN, MUSIM GUGUR DI HARVARD

Uhhg, musim gugurnya indah.

Sekarang, aku berdiri di bawah pohon Ek di fakultas hukum Harvard dan lagi-lagi merasa damai di musim gugur seperti ini. Tapi, kali ini bukan sebagai tukang sapunya. Aku– Daphne Green adalah seorang mahasiswa di fakultas hukum Harvard. Ya, aku berhasil lulus dari ujian beasiswa itu.

Sudah setahun aku tidak bertemu dengan Andrew. Sama sekali tidak ada kontak ataupun berita. Ia menghilang serta menguap seperti udara. Meski demikian, aku masih yakin kalau Andrew akan menepati janji yang kami buat sebelum ia naik ke pesawat. Kalau ia akan segera kembali secepat yang ia harapkan.
“Daphne!” seseorang berseru dari belakang. Aku berbalik dan segera menyadari orang yang ada di depanku ini. Dia Andrew!
“Sedang apa kau di sini?” tanyaku dengan berusaha menyembunyikan keterkejutanku.
Ia merjalan mendekat. “Aku mengunjugi sepupuku di Manhattan. Lalu, aku tersadar kalau ada satu tempat yang harus aku kunjungi.” Katanya seraya menerawang ke pohon-pohon Ek yang daunnya telah habis. “Kenapa kita selau bertemu di musin gugur ya?”
Lagi. Aku kembali melihat ekspresi muka Andrew saat ia berbohong. Ia seperti seorang aktor yang tidak bisa berakting. “Ayolah Andrew, jujurlah! Apa yang membawamu kemari?”
“Daph, kita pernah membuat janji....”
“Jadi apa karena janji itu? Kau kesini hanya untuk menepati janji?” potongku tak sabar.

Andrew menatapku dalam. Hingga aku merasa kalau tatapannya itu langsung ke hatiku. “Kau salah.” Katanya. “Aku kesini bukan karena janji itu.” Ia menarik nafasnya dalam-dalam, “Seorang yang bernama Daphne Green-lah yang membawaku kemari, setahun ini hanya dia yang ada di otakku.”

Saat itu aku melupakan segalanya. Rasanya waktu menghilang tanpa jejak. Yang aku pikirkan hanyalah mata biru Andrew yang menatapku sangat dalam. Lalu ketika aku tersadar mata itu bergerak mendekat, aku merasakan seluruh tubuhku dilumuri cairan kebahagiaan abadi.

Ya, hanya aku dan Andrew di tengah indahnya musim gugur kampus Harvard.


THE END

Tidak ada komentar: